![]() |
| Sumber: akurat.co |
Perang yang terjadi di media sosial antara pendukung calon
presiden petahananan Joko Widodo versus calon presiden Prabowo Subianto semakin
deras, terutama setelah berlangsung debat perdana pada pekan lalu.
Melalui akun Twitter, Permadi Arya mengunggah konten video
yang dimaksudkan untuk mengejek penampilan Prabowo Subianto dalam acara debat
perdana. Tetapi, menurut dia, tim pendukung Prabowo Subianto sebagaimana yang
disebutkan dalam akun Twitter, tetap optimitis untuk memenangkan debat.
"Pak @prabowo jadi bahan olok-olokan orang se-Indonesia
di app TikTok akibat penampilan buruk di debat capres. Tapi pendukungnya
@Dahnilanzar @Ferdinand_Haean @AkunTofa masih meyakini Pak Prabowo menang
debat, mbok ya sekali-sekali buka mata rakyat masih percaya
#JokowiUdahKasihBukti," kata Permadi Arya melalui akun Twitter
@permadiaktivis.
Diejek demikian, politikus Partai Demokrat FerdinandHutahaean hanya menjawab singkat dengan menampilkan hastag yang sekarang sedang
trending topic.
"#JKWBatalCintaUlama," kata Ferdinand Hutahaean
melalui akun Twitter @Ferdinand_Haean.
Hastag tersebut dipicu oleh perkembangan terbaru terkait rencana
pembebasan terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba'asyir yang disampaikan
Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto. Wiranto mengatakan
Presiden Joko Widodo sudah memerintahkan kepada pejabat terkait untuk segera
melakukan kajian secara lebih dalam terkait pembebasan Abu Bakar Ba'asyir.
Dengan memakai hastag #JKWBatalCintaUlama itu pula, Ferdinand Hutahaean meminta Jokowi untuk memberikan penjelasan mengenai kenapa sekarang
meminta pengkajian ulang terhadap rencana pembebasan Abu Bakar Ba'asyir.
"Karena yang menyampaikan rencana pembebasan Ustaz ABB
adalah Jokowi, maka kita minta Jokowi juga menjelaskan alasan mengkaji ulang
pembebasan tersebut. Pemimpin harus berani bertanggungjawab, berani bicara
berani minta maaf dan berani jujur. #JKWBatalCintaUlama," kata Ferdinand Hutahaean.
Dalam konferensi pers di Kementerian Koordinator Politik,
Hukum, dan Keamanan, kemarin, disampaikan bahwa keluarga Abu Bakar Ba'asyir
telah meminta pembebasan sejak 2017 karena usia lanjut dan kesehatan yang terus
menurun.
Atas dasar itu, Presiden Jokowi memahami permintaan mereka.
Namun demikian, menurut Wiranto, pembebasan Abu Bakar Ba'asyir juga
memepertimbangkan aspek-aspek lainnya, seperti kesetiaan terhadap Pancasila,
hukum, dan lain sebagainya.
"Presiden tidak grusa-grusu, serta merta, tapi perlu
mempertimbangkan aspek lainnya. Oleh karena itu presiden memerintahkan pejabat
terkait meminta kajian mendalam dan komprehensif merespon permintaan itu,"
katanya.
Sebelumnya Presiden menyebut pembebasan terpidana kasus
terorisme Abu Bakar Ba'asyir dilakukan demi dan atas dasar pertimbangan alasan
kemanusiaan.
"Ya yang pertama memang alasan kemanusiaan. Artinya
beliau kan sudah sepuh, ya pertimbangannya kemanusiaan," kata Presiden
setelah meninjau rumah susun Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah di Desa
Nglampangsari, Cilawu, Garut, Jawa Barat.






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2292293/original/068422300_1532598609-Yusril-Ihza-Mahendra-Temui-Oesman-Sapta-Odang4.jpg)
