Selasa, 22 Januari 2019

Perang Medsos, Ferdinand Jawab #JKWBatalCintaUlama

Sumber: akurat.co
Perang yang terjadi di media sosial antara pendukung calon presiden petahananan Joko Widodo versus calon presiden Prabowo Subianto semakin deras, terutama setelah berlangsung debat perdana pada pekan lalu.

Melalui akun Twitter, Permadi Arya mengunggah konten video yang dimaksudkan untuk mengejek penampilan Prabowo Subianto dalam acara debat perdana. Tetapi, menurut dia, tim pendukung Prabowo Subianto sebagaimana yang disebutkan dalam akun Twitter, tetap optimitis untuk memenangkan debat.

‏"Pak @prabowo jadi bahan olok-olokan orang se-Indonesia di app TikTok akibat penampilan buruk di debat capres. Tapi pendukungnya @Dahnilanzar @Ferdinand_Haean @AkunTofa masih meyakini Pak Prabowo menang debat, mbok ya sekali-sekali buka mata rakyat masih percaya #JokowiUdahKasihBukti," kata Permadi Arya melalui akun Twitter @permadiaktivis.

Diejek demikian, politikus Partai Demokrat FerdinandHutahaean hanya menjawab singkat dengan menampilkan hastag yang sekarang sedang trending topic.
"#JKWBatalCintaUlama," kata Ferdinand Hutahaean melalui akun Twitter @Ferdinand_Haean.

Hastag tersebut dipicu oleh perkembangan terbaru terkait rencana pembebasan terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba'asyir yang disampaikan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto. Wiranto mengatakan Presiden Joko Widodo sudah memerintahkan kepada pejabat terkait untuk segera melakukan kajian secara lebih dalam terkait pembebasan Abu Bakar Ba'asyir.

Dengan memakai hastag #JKWBatalCintaUlama itu pula, Ferdinand Hutahaean meminta Jokowi untuk memberikan penjelasan mengenai kenapa sekarang meminta pengkajian ulang terhadap rencana pembebasan Abu Bakar Ba'asyir.

"Karena yang menyampaikan rencana pembebasan Ustaz ABB adalah Jokowi, maka kita minta Jokowi juga menjelaskan alasan mengkaji ulang pembebasan tersebut. Pemimpin harus berani bertanggungjawab, berani bicara berani minta maaf dan berani jujur. #JKWBatalCintaUlama," kata Ferdinand Hutahaean.

Dalam konferensi pers di Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, kemarin, disampaikan bahwa keluarga Abu Bakar Ba'asyir telah meminta pembebasan sejak 2017 karena usia lanjut dan kesehatan yang terus menurun.

Atas dasar itu, Presiden Jokowi memahami permintaan mereka. Namun demikian, menurut Wiranto, pembebasan Abu Bakar Ba'asyir juga memepertimbangkan aspek-aspek lainnya, seperti kesetiaan terhadap Pancasila, hukum, dan lain sebagainya.

"Presiden tidak grusa-grusu, serta merta, tapi perlu mempertimbangkan aspek lainnya. Oleh karena itu presiden memerintahkan pejabat terkait meminta kajian mendalam dan komprehensif merespon permintaan itu," katanya.

Sebelumnya Presiden menyebut pembebasan terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba'asyir dilakukan demi dan atas dasar pertimbangan alasan kemanusiaan.

"Ya yang pertama memang alasan kemanusiaan. Artinya beliau kan sudah sepuh, ya pertimbangannya kemanusiaan," kata Presiden setelah meninjau rumah susun Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah di Desa Nglampangsari, Cilawu, Garut, Jawa Barat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar